Tantangan Zaman Sekarang
Di era digital ini, akses terhadap ilmu sangat terbuka lebar. Kita bisa belajar apa saja hanya dengan koneksi internet. Namun, tantangannya justru semakin besar: bagaimana kita memastikan bahwa ilmu yang kita pelajari benar-benar bermanfaat dan tidak menjerumuskan?
Banyak orang cerdas yang justru terjebak dalam sikap arogan karena merasa dirinya lebih tahu. Banyak pula yang memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan hoaks atau memperkaya diri sendiri. Ini adalah contoh nyata dari tipe “manusia bandit” yang disebutkan dalam story tadi
Sementara itu, sebagian masyarakat masih belum menyadari pentingnya belajar dan memperbaiki diri. Mereka terjebak dalam rutinitas dan kadang lebih percaya pada informasi sesat dibanding pengetahuan yang benar. Ini menunjukkan bahwa masih banyak yang masuk kategori “manusia bar-bar”.
Menuju Manusia Beradab
Tujuan hidup kita semestinya adalah menjadi “manusia beradab”, yaitu manusia yang tidak hanya pintar, tapi juga bijak dan beretika. Menjadi beradab berarti tidak hanya fokus pada pencapaian duniawi, tetapi juga peduli pada bagaimana cara kita mencapainya.
Untuk bisa seperti itu, kita harus terus belajar—tidak hanya ilmu dunia, tapi juga ilmu agama. Kita harus rajin membaca, berdiskusi, mengamati, dan yang paling penting: merenung. Apa yang kita pelajari hari ini? Apakah itu membawa kita lebih dekat kepada kebaikan? Apakah itu membuat kita lebih peduli kepada sesama?
Penutup
Story WhatsApp Pak Nurohmat memang singkat, tapi maknanya sangat dalam. Kadang hal-hal yang terlihat sepele justru bisa membuka pintu kesadaran. Dari dua kutipan itu, saya belajar bahwa ilmu bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju hikmah. Dan hidup bukan sekadar tentang menjadi pintar, tapi tentang menjadi manusia yang beradab.
Semoga kita semua bisa belajar menjadi manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga matang secara spiritual dan moral. Karena seperti kata pepatah, “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa cahaya.”